IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

San Grito

SUMEDANG, (PR).- Tiga orang Wasana Praja (mahasiswa tingkat tiga) Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor Kab. Sumedang yang menjadi terdakwa dalam perkara penganiayaan terhadap praja juniornya, Jurinata (19), akhirnya divonis lima bulan penjara. Putusan pidana majelis hakim ini, tiga bulan lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya mengajukan tuntutan delapan bulan penjara potong masa tahanan.

Dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Sumedang, Senin (16/2) kemarin, Ketua Majelis Hakim, Parlas Nababan, SH., menyatakan, sesuai keterangan terdakwa, saksi-saksi, dan barang bukti di persidangan, para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan melawan hukum berupa penganiayaan terhadap korban Jurinata.

Menurut Majelis Hakim, para terdakwa yang terdiri dari Lauren Oktoberi Tahan, San Grito, dan Hendri, secara sah dan meyakinkan, telah bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap Jurinata, sesuai ketentuan Pasal 351 ayat I jo Pasal 55 ayat 1 ke 1e KUHP. Akibat perbuatan itu, korban Jurinata mengalami gangguan pada alat pendengaran, berupa gendang telinga bagian kiri korban pecah. Hal itu dikuatkan dengan hasil visum et repertum yang dikeluarkan Dr. Fazar N.sp. THT dengan nomor 618 SI-RSAI/IX/2003 tertanggal 13 Mei 2003.

Dijelaskan Parlas, yang memberatkan para terdakwa, dalam perbuatannya itu, telah menanamkan tradisi kepada para juniornya dengan melampaui ketentuan-ketentuan dalam peraturan kehidupan praja STPDN, di samping melanggar norma-norma di masyarakat. “Adapun yang meringankan, para terdakwa masih muda dan berstatus praja serta masih memiliki masa depan untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa. Belum pernah dihukum, serta menyesali perbuatannya,” jelasnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Muhamad Faisal, S.H. dan Ellyana, S.H., menyatakan menerima putusan majelis hakim tersebut. “Kami menerima putusan majelis hakim, karena itu sudah memenuhi rasa keadilan,” kata JPU Fasisal.

Sedangkan anggota tim penasihat hukum terdakwa dari LBHK Generasi Muda FKPPI Jabar, Soni Wasita, SH., dan Sahrul, SH., menyatakan pikir-pikir untuk melakukan upaya banding. Meski secara profesional ia menyatakan menghormati putusan majelis hakim, namun ia pun menyatakan kecewa dengan vonis bersalah itu. Menurut mereka, fakta-fakta yang muncul dalam persidangan, semuanya meringankan para terdakwa. “Kami masih pikir-pikir, apakah akan melakukan upaya banding atau tidak,” ujarnya.

Putusan majelis hakim tak urung membuat para terdakwa serta beberapa anggota keluarga mereka yang turut menghadiri sidang merasa kecewa. Kekecewaan itu muncul karena sebelumnya mereka merasa yakin dalam sidang putusan itu ketiga terdakwa bisa langsung bebas. Terlebih, dengan tuntutan hukuman delapan bulan potong masa penahanan yang telah dijalani para terdakwa sejak 23 September 2003 lalu.

Dengan putusan lima bulan potong masa penahanan itu, maka para terdakwa tidak dapat langsung menghirup udara segar, karena masih harus menjalani masa hukuman selama satu minggu di rumah tahanan (rutan) setempat.(A-98)***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0204/17/0106.htm

Belum Ada Tanggapan to “San Grito”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: