IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

– Tb Ronny Nitibaskara

Lingkaran Kekerasan STPDN

 

SALUT kepada SCTV yang menayangkan gambar spektakuler dan dramatis peristiwa di lapangan yang diberi judul Siksaan di Balik Tembok STPDN. Rekaman asli itu merupakan penggalan suatu kegiatan reguler yang berlangsung akhir Juni 2003.

Realitas itu membuat kita terhenyak. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan tinggi, antara lain sebagai Koordinator PTS Wilayah III, rasanya tak percaya hal itu berlangsung di perguruan tinggi Indonesia. Hanya untuk memperoleh lencana drumband saja begitu mengerikan, sulit dibayangkan betapa kejamnya siksaan yang diterima yunior pada masa orientasi.

Tinju dengan kepalan tangan telanjang yang diarahkan ke ulu hati disertai tenaga penuh, tentu membawa efek amat menyakitkan. Apalagi jika “korban” harus secara sukarela mengumpankan diri menerima pukulan. Dapat dipastikan, rasa sakitnya luar biasa. Itulah salah satu jenis siksaan yang relatif “ringan” yang terjadi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Padahal, banyak petinju profesional yang sudah bertahun-tahun berlatih roboh saat ulu hatinya terkena tinju oleh lawan yang sebanding, kendati pukulan yang mengenainya berasal dari kepalan yang terbungkus sarung tinju.

Gambar kekerasan di luar akal sehat itu harus menutup argumen dan alibi bahwa di sekolah kedinasan Departemen Dalam Negeri (Depdagri) tak ada kekerasan. Rekaman itu bahkan harus dijadikan bukti tentang pelembagaan kekerasan di STPDN. Yang lebih menyedihkan, adanya fenomena mempertukarkan kekerasan dengan materi. Menurut seorang mantan praja (mahasiswa STPDN), yunior yang memberi sejumlah uang kepada senior tertentu ia akan terbebas pemukulan dari senior bersangkutan. Apabila pengakuan ini benar, yang marak di lembaga pendidikan calon pamong praja itu juga premanisme. Pada tahap ini, tampaknya mereka diam-diam berlatih mengemas ancaman dan penggunaan kekerasan secara sistematis sebagai komoditas. Perilaku ini tidak sekadar merupakan premanisme, tetapi mendekati ciri-ciri terorisme.

JIKA kondisi semacam itu berlangsung pada setiap angkatan, terjadi lingkaran kekerasan. Tradisi itu membentuk batasan tersendiri yang khas kampus bersangkutan, antara lain menyangkut pertama, definition of activity. Kekerasan yang sudah lama dipraktikkan di lingkungan setempat akan dianggap wajar oleh komunitas di tempat itu, meski amat bertentangan dengan nilai-nilai umum di masyarakat. Kedua, definition of social relation. Individu yang terbiasa dengan lingkungan kekerasan akan mendefinisikan hubungan sosialnya dengan simbol kekerasan. Bila ada alumni STPDN yang sering bertindak represif saat menjadi birokrat, bisa jadi definisi hubungan sosialnya telah sarat kekerasan.

Terbentuknya lingkaran kekerasan, bisa jadi ada kontribusinya dari yunior yang dalam konteks kekerasan ini adalah pihak yang menjadi korban. Sedikitnya ada tiga faktor, meminjam kerangka HC Kelman (1966), yang menguasai cara berpikir “korban” yang dapat membantu kian kukuhnya lingkaran kekerasan itu.

Pertama, Compliance, yunior patuh, tidak melawan karena hal ini dipandang oleh yang bersangkutan sebagai usaha menghindarkan diri dari hukuman yang lebih keras. Dengan menyerah dan menerima segala perlakuan buruk, berharap agar siksaan lekas berhenti dan tidak timbul kekerasan lain yang lebih keji.

Kedua, identifikasi. Pada cara berpikir ini, yunior tabah menerima deraan yang penuh kesakitan karena ia tidak ingin dikeluarkan dari kelompok. Mereka berharap menjadi bagian dari kelompok, tidak hendak dicap sebagai banci atau pengecut. Dorongan untuk tetap menjadi mahasiswa membuat mereka tabah, dan perlahan-lahan mulai mencari pembenaran atas kekerasan yang berlangsung. Proses identifikasi inilah yang barangkali nantinya akan membekali para praja berlaku kejam pula pada mahasiswa yang datang kemudian. Namun, karena tidak ada standar baku, perlakuan itu akan bertambah keras dan bengis.

Proses berpikir ketiga adalah internalisasi. Pada tahap ini yunior berusaha menyerap semua yang didapat di STPDN sebagai sesuatu yang baik karena berada di kampus itu sudah diidamkan sejak semula. Pandangan atau nilai pribadi dikalahkan agar dapat menerima apa-apa yang baru dijumpai meski disadari, hal itu buruk. Bila proses ini berhasil, nantinya akan melahirkan senior yang kaya death insting seperti dalam tayangan SCTV. Mereka melakukan penganiayaan berat sebagai kesenangan.

LIHATLAH seorang yunior bertubuh kerempeng sekeras-kerasnya dihajar ulu hatinya oleh seorang senior berbadan kekar tanpa sebab-sebab yang jelas. Saat masih menahan sakit, tiba-tiba dari belakang senior lain menghantam bagian punggung dengan tak kalah kencang sambil tertawa dan lari meninggalkan korban yang menggelosor mengerang kesakitan. Kebrutalan lain lebih mengerikan, sehingga tidak pantas diceritakan kembali, apalagi jika diingat, mungkin di antara banyak pelaku telah lulus mata kuliah Etika Pemerintahan atau Filsafat Pancasila.

Ketika penganiayaan terhadap orang tak berdaya telah menjadi hiburan, sebenarnya pelakunya adalah sakit, menderita gangguan kejiwaan akut. Mereka melakukan kekerasan, tidak tahu mengapa hal itu dilakukan, kecuali untuk menikmati derita korban dan memompa ego sebagai pihak yang berkuasa. Inilah kekerasan paling primitif. Meski, many of the normative proscriptions and prescriptions that apply in the military have no parallel in civilian life (CD Bryant,1979), tidak dikenal adanya penggunaan kekerasan kolektif tanpa tujuan semacam itu.

Charles Tilly membagi kekerasan kolektif dalam tiga kategori: kekerasan kolektif primitif, reaksioner, dan modern. Menurut hemat saya, kekerasan di STPDN tidak dapat digolongkan pembagian ini, karena sifat kelembagaannya. Karena itu, saya sebut kekerasan kolektif struktural (structural collective violence). Istilah ini untuk menghilangkan kesan, kekerasan itu hanya merupakan situationally violent atau accidentally violent seperti dalam penggolongan John Conrad (dalam Sanford H Kadish,1983). Kejahatan dalam dunia pendidikan ini berlangsung karena diberi ruang oleh struktur yang sah, senior diberi hak atau dibiarkan menindas yuniornya.

Dengan memberikan tekanan pada unsur struktur maka untuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas berbagai kekerasan itu relatif mudah. Hal ini tak dijumpai pada kekerasan kolektif lain. Demikian pula untuk memotong lingkaran kekerasan itu, juga agak gampang. Melalui struktur kekuasaan, lembaga itu sistem pendidikannya diubah total atau malah dibubarkan. Yang sulit di sini adalah bagaimana meminta pertanggungjawaban secara yuridis kepada seluruh jajaran Depdagri yang berhubungan dengan masalah ini.

Patut dipercaya, berbagai kekerasan yang terjadi di STPDN telah melahirkan banyak kejahatan. Tewasnya praja Erie Rakhman (2000) dan Wahyu Hidayat (2003) merupakan tindak pidana yang “terpaksa mengemuka”. Tidak bisa ditutup-tutupi karena menyangkut matinya orang. Terhadap berbagai kejahatan lain, seperti mengakibatkan luka parah, penerimaan suap dan lainnya yang selama ini berhasil dipendam, harus diusut tuntas. Pertanggungjawaban pidana semua kejahatan tidak dapat hanya dibebankan kepada para praja.

Mereka yang melakukan pembiaran (omission) berlangsungnya penyiksaan, padahal mereka dapat mencegahnya, juga harus bertanggung jawab secara hukum. Tragedi di dunia pendidikan ini telah membuat luka hati seluruh bangsa. Apabila, dalam kasus ini, pihak-pihak yang melakukan pembiaran tidak tersentuh hukum, lingkaran kekerasan STPDN kian meluas, mencederai rasa kemanusiaan dan keadilan masyarakat.

Tb Ronny Nitibaskara Koordinator Kopertis Wilayah III Jakarta.

26 September 2003

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/26/opini/580421.htm

Belum Ada Tanggapan to “– Tb Ronny Nitibaskara”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: