IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

– Febrian Simon Awuy

Keluarga Korban Kekerasan Akan Gugat STPDN
01 Oktober 2003

TEMPO Interaktif, Minahasa: Korban kekerasan dan penyiksaan, Febrian Simon Awuy, lewat orangtuanya akan menggugat Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Demikian dikatakan Adrian H. Awuy, ayah Febrian, Rabu (1/10), di Minahasa, Sulawesi Utara.

Upaya hukum dilakukan, lantaran korban mengalami cacat dan stres berkepanjangan. “Kami menggugah lembaga bantuan hukum, dapat menjembatani gugatan ini,” kata Adrian yang juga Hukum Tua (Kepala Desa, Red) Lembean, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa ini.

Adrian mengatakan, anaknya dikeluarkan dari STPDN bukan karena tidak mampu melanjutkan pendidikan. “Dia (Febrian) keluar karena dicederai dan tidak tahan dengan perlakuan di dalam,” kata Elisabeth Kawatu, ibu Febrian. Febrian termasuk Praja Gelombang II, 2002, Kompi A dengan NPP 14.0602 NIP 010.267.874, berada satu kompi dengan Wahyu Hidayat. “Kami sudah memprotes tindakan-tindakan senior di STPDN, tapi didiamkan,” kata Adrian.

Ceritanya, sebelum dilantik, Febrian sudah menerima penyiksaan dari para senior. Kemudian, Febrian dibawa ke klinik STPDN dan pada 18 Oktober 2002, Febrian masuk Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Setelah sembuh, Febrian kembali masuk, tapi kemudian penyiksaan terjadi lagi, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Al Islam, pada 30 Oktober 2002. Ketika Febrian masuk rumah sakit, pihak STPDN pun tidak pernah memberitahukan keluarganya. Hingga akhirnya, kondisi Febrian membaik, masuk sekolah dan mengikuti pelantikan pada 2 November 2002, walau masih dibebat karena cedera tulang.

Baru tiga minggu menjalani pendidikan, Febrian dipanggil para senior dengan tuduhan tidak kuliah. Di dalam barak, Febrian diminta menutup mata dengan sapu tangan. Lalu, secara bergantian para senior memukuli Febrian. Tak puas menutup mata Febrian dengan sapu tangan, para senior kemudian menyelimutinya. Febrian disiksa. Kepuasan para senior seakan terpenuhi, ketika membiarkan Febrian merangkak sampai ke klinik STPDN.

Dari klinik, Febrian dibawa ke Rumah Sakit Santo Yusup. Dua hari di rumah sakit, kedua orang tua Febrian baru kemudian mengetahuinya. Informasi, itupun tidak didapatkan dari pihak STPDN. “Kami menyesalkan, anak kami masuk rumah sakit, tapi tak ada pemberitahuan,” kata Adrian. Dengan terpaksa, ayah dan ibu Febrian mengumpulkan uang untuk biaya perjalanan menuju Bandung. Saat ditemui, kondisi Febrian sangat parah. “Anak kami sudah diinfus,” kenangnya.

Mengetahui perlakuan yang menimpa anaknya, Adrian menemui Walangare, dosen pembimbing STPDN dan meminta agar senior-senior di STPDN tidak melakukan penganiayaan lagi. Sayang, hingga pulang ke Manado, tak ada surat pernyataan yang disepakati orang tua Febrian dengan pihak STPDN.

Desember 2002 tiba, Febrian pulang kampung untuk berobat. Tapi, Januari 2003, ia sudah kembali melanjutkan studinya di STPDN. Berganti tahun, seakan tak ada artinya bagi Febrian. Sekembalinya menjalani rutinitas di STPDN, ia kembali disiksa. Kali ini, alasan para senior adalah Febrian dianggap suka melapor ke orang tua.

Hingga April 2003, Febrian dikeluarkan dari STPDN. Surat yang ditandatangani Ketua STPDN, H. Sutrisno, juga meminta Febrian mengganti biaya sebesar Rp 2,1 juta. “Anak kami sudah cacat, patah rusuk, masih diminta penggantian biaya?” katanya dengan kecewa.
Verrianto Madjowa – Tempo News Room

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sulawesi/2003/10/01/brk,20031001-55,id.html

Belum Ada Tanggapan to “– Febrian Simon Awuy”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: