IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

Kasus Pemecatan Praja Faisal

Kisah Faisal, Praja Asal Makassar yang Dipecat

Kekerasan bukan satu-satunya masalah yang membelit Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Aroma kolusi dan nepotisme juga merebak di kampus pencetak pamong ini. Kisah , menguatkan indikasi itu. Laporan Alief Sappewali – FAJAR.

KISAH pahit itu terjadi dua tahun lalu. Tapi, hingga kini Faisal masih terus diliputi kebingungan. Hingga kini ia belum menemukan kejelasan mengapa dirinya dikeluarkan secara sepihak dari STPDN (kini IPDN). Padahal, ia merasa tidak pernah melakukan tindakan indisipliner apalagi kekerasan.

“Saat itu saya diminta Pak I Nyoman Sumaryadi (saat itu masih menjabat Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan STPDN) untuk menulis kronologis saat saya mulai masuk hingga mengikuti Latsar Mendis Praja. Setelah catatan itu saya setor, beliau langsung memerintahkan saya keluar dari STPDN,” kata Faisal kepada Fajar di Kopizone, Makassar, kemarin.

Saat itu, Sumaryadi memang memberi alasan pemecatan dirinya dari STPDN. Tapi, Faisal merasa alasan itu terkesan dibuat-buat dan sulit dipahami. Sumaryadi mengatakan ia tidak memenuhi syarat belajar di institut yang bermarkas di Jatinangor itu karena tidak memiliki SK. Padahal, jelas-jelas Faisal telah dinyatakan lulus masuk STPDN.

“Saya sudah melalui seluruh prosedur mulai dari tingkat Kota Makassar hingga seleksi di STPDN. Saya kemudian dinyatakan lulus dan bahkan sudah menjalani Latsar,” tutur Faisal sambil memperlihatkan seragam praja dan foto bersama rekannya di Batalyon I Kompi A Latsar Mendis Praja tahun 2004.

Ia mengikuti seleksi masuk STPDN tahun 2004. Saat itu Faisal adalah salah satu calon praja STPDN utusan Kota Makassar. Ia mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga pantuhir. Lalu, calon praja yang dinyatakan lulus diumumkan. Nama Faisal termasuk salah seorang yang dinyatakan lulus.

Selanjutnya, Faisal pun mengikuti Latsar Mendis di Cimahi. Masalah muncul saat pengukuhan akan dilakukan. Pada saat gladi resik, tiba-tiba Sumaryadi memanggil Faisal secara khusus untuk memberitahukan bahwa ia tidak lulus. Akibatnya, Faisal gagal dikukuhkan pada gelombang pertama tersebut.

Namun, sehari kemudian Sumaryadi kembali memanggil Faisal. Saat itu ia memberitahukan bahwa ada kekeliruan dan Faisal ternyata lulus. Maka, ia pun akhirnya mengikuti pengukuhan gelombang kedua. Namun, setelah belajar selama kurang lebih tiga bulan di STPDN atau tepatnya 17 Maret 2005, ia kembali dipanggil Sumaryadi.

Saat itulah, Faisal diminta membuat kronologis secara tertulis mulai proses ia masuk hingga mengikuti proses belajar mengajar di STPDN. Setalah itu, ia langsung dikeluarkan. Sambil menunggu orangtuanya datang menjemput, Faisal sempat tinggal sementara di komplek STPDN.

“Setelah itu kami bawa Faisal ke Jakarta. Kami menunggu perkembangan selama dua bulan. Kami juga sempat mengadu ke LBH Jakarta atas kesewenang-wenangan itu. Tapi, tidak digubris pihak STPDN. Tapi, kami belum menyerah. Sambil menunggu, Faisal mengisi waktu dengan kuliah di Universitas Tri Sakti,” jelas Ashadi, keluarga Faisal.

Belum sempat menyelesaikan pendidikan di Tri Sakti, pihak keluarga meminta Faisal pulang ke Makassar. Alasannya, mereka khawatir keselamatan Faisal jika tetap berada di Jakarta. Di Makassar, ia melanjutkan kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI) hingga sekarang. Ia sekarang sudah menginjak semester IV di Fakultas Ekonomi UMI.

“Kebetulan kasus-kasus IPDN sedang terbongkar. Kami pikir ini kesempatan yang baik mengungkap masalah lain IPDN. Kami berharap, Faisal bisa dikembalikan kepada status awalnya sebagai praja IPDN. Sedangkan penggantinya yang masuk secara ilegal, kami minta diusut,” tambah Ashadi.

Pihak La Ode Muhammad Faisal memang mencurigai adanya permainan oknum tertentu terkait pemecatan dirinya dari STPDN. Betapa tidak, ia melihat ada dua praja asal Sulawesi Selatan yang sebelumnya dinyatakan tidak lulus. Tidak jelas, bagaimana kedua praja itu bisa lolos menggantikan posisinya dengan cara semudah itu.

Bagaimana dengan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di IPDN? Faisal tidak ingin banyak berkomentar soal ini. “Tidak perlu saya ceritakan. Apa yang ditayangkan televisi selama ini sudah cukup menggambarkan kejadian di IPDN yang sesungguhnya,” tandasnya.

 

* Tak Ada Formasi

Kasus Faisal ini sebenarnya sudah pernah diributkan pada akhir 2005 lalu. Dalam sebuah wawancara situs berita Tempointeraktif edisi 8 Oktober 2005, kasus Faisal ini sempat disinggung oleh I Nyoman yang saat itu masih menjabat sebagai purek III.

Menurut Nyoman, Faisal dikirim ke IPDN untuk mengikuti seleksi sebagai formasi tambahan. Ia dikirim bersama lima temannya untuk mengikuti proses seleksi sambil menunggu tambahan kuota yang diputuskan oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara. “Diusulkan oleh pemda (pemerintah daerah) sebagai usul tambahan formasi,” katanya.

Ternyata, formasi tambahan untuk calon praja asal Faisal (maksudnya formasi tambahan untuk Makassar, red) tidak ada. Padahal, saat yang bersamaan Faisal yang masih berada di kampus IPDN saat itu, ternyata telah mengikuti Latsarmendis di Cimahi bersama calon praja lainnya. “Pulang dari Cimahi (Latsarmendis) dia (Faisal) diberitahu tidak lulus,” ujar Nyoman. Pemberitahuan itu, diumumkan pada Oktober 2004 lalu.

Setelah pemberitahuan tersebut, calon praja yang tidak lulus tersebut, diperbolehkan tinggal di kompleks IPDN. Selama menunggu jemputan, ia tinggal di mess yang dikhususkan bagi tamu di kompleks IPDN. “Kami punya toleransi sampai orang-tuanya datang,” katanya. Izin tinggal tersebut diberikan karena Faisal tidak mempunyai biaya untuk menginap di luar kompleks IPDN.

Nyoman juga membantah adanya calon praja yang menggantikan posisi Faisal. Karena ketika usulan formasi tambahan tidak ada, maka tidak ada calon praja yang bisa diterima lagi dari pemerntah daerahnya. “Kami punya data dan fakta,” katanya. (***)

http://www.fajar.co.id/picer.php?newsid=80

Belum Ada Tanggapan to “Kasus Pemecatan Praja Faisal”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: