IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

Rudini: Saya Menangis Siswa STPDN Jadi “Preman”

Jakarta, 9 September 2003 13:02
Mantan Mendagri sekaligus pendiri Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), merasa risau luar biasa begitu mengetahui adanya siswa lembaga pendidikan tersebut meninggal akibat kekerasan yang dilakukan senior dalam masa orientasi, dan juga kepada wartawan.

“Saya sedih dan menangis begitu mengetahui kekerasan yang terjadi, bahkan sampai menewaskan salah seorang calon pamong negara,” kata Rudini dalam percakapan telepon dengan Antara di Jakarta, Selasa.

Rudini mengatakan, tujuan dibentuknya STPDN adalah melahirkan pejabat pemerintahan sipil atau pamong yang berwibawa, bukan lulusan yang mengandalkan kekuasaan, tetapi lebih karena pemikiran dan teladan yang dilakukannya.

“Dengan wibawanya itu maka ia diakui oleh masyarakat. Bukan pamong yang sok kuasa,” ujarnya sengit.

Sesudah mencermati situasi yang terjadi di STPDN, mantan Kasad itu menuturkan telah terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah calon camat itu, sehingga nantinya malah menghasilkan calon kader yang keras tetapi tidak mengerti makna pamong.

“Mengenai kurikulum sebetulnya tidak ada masalah, yang salah adalah operasionalnya,” ujar Rudini.

Ia kemudian mencontohkan, tidak adanya pengasuh dalam setiap kelompok yang bertugas membimbing dan memberikan teladan kepada para calon.

“Zaman dulu ada, tapi sekarang tidak ada, makanya tidak heran kalau jadinya calon kader itu seperti preman,” ujarnya.

Pada era permulaan STPDN, bahkan Rudini mencoba untuk memasukkan praktek lapangan yang berkaitan dengan pertanian, peternakan, serta perbankan.

Menurut dia, calon pemimpin itu boleh keras, tetapi juga memiliki jiwa demokratis yang mengedepankan musyawarah dan komunikasi. “Sekarang ini yang ada salah asuh dan main kuasa semata.”

Lebih jauh ia menceritakan latar belakang pembangunan STPDN yang diilhami dari pendidikan taruna di AS yang begitu patuh pada aturan, sehingga saat sang jenderal tidak berada pada posisi kewenangan yang tepat, langsung diingatkan. [Tma, Ant]

http://www.gatra.com/2003-09-18/artikel.php?id=31064

Belum Ada Tanggapan to “Rudini: Saya Menangis Siswa STPDN Jadi “Preman””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: