IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

Seorang Praja Tewas Tak Wajar

Kembali Terjadi di IPDN

Bandung, (Pakuan).- Kampus Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) atau yang sebelumnya dikenal dengan STPDN (Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri) kembali diliputi tragedi. Clifft Muntu (20), pradja II asal Manado, Sulawesi Utara (Sulut), diketahui meninggal dunia saat dilarikan ke RS Al Islam dini hari pukul 24.00 kemarin.

Penyebab kematiannya pun masih simpang-siur. Hingga kemarin petang, jenazahnya masih diotopsi. Pejabat yang mengotopsi pun belum bisa membeberkan penyebab kematian secara pasti. Apakah Clifft korban penyiksaan kakak seniornya seperti kasus yang pernah terjadi di kampus tersebut beberapa tahun lalu? Hingga kemarin sore, polisi belum bisa menyimpulkan apa-apa. Penyelidikan masih dilakukan.

Clifft dibawa ke RS Al Islam (RSAI) pukul 24.00 kemarin oleh empat rekan seniornya. Pihak RSAI sempat memeriksa keadaan Clifft. Namun, sayang, ketua pradja kontingen Sulut itu sudah meninggal.

’’Diperkirakan korban sudah meninggal tiga jam sebelum dibawa ke sini (RSAI, Red),’’ kata Benny Benardi, dokter jaga RSAI yang pertama menangani Clifft. Benny lantas mengusulkan agar jenazah Clifft diotopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

’’Waktu itu saya sudah merekomendasikan untuk diotopsi agar ketahuan penyebab kematiannya,’’ tambahnya kepada wartawan di RSAI kemarin.

Namun, usul itu ditolak beberapa rekan Clifft yang membawa ke RS. Pihak RSAI kemudian menghubungi Polsek Jatinangor terkait masalah tersebut. ’’Saya diberi tahu oleh pihak rumah sakit jam satu malam dan langsung meluncur,’’ ujar Kapolsek Jatinangor AKP Bashori. Dengan kedatangan polisi, beberapa pradja IPDN masih menutup keterangan terkait kematian rekannya itu. ’’Bahkan, saat kami mau minta keterangan mahasiswa itu, mereka malah minta surat izin. Kan lucu?’’ tambah Kapolsek. Pengumpulan keterangan pun terhambat dan terkesan ditutup-tutupi.

Pukul 03.00, jenazah Clifft dikremasi dan disembahyangkan di kamar jenazah. Dua jam kemudian empat pradja keluar dari RSAI dan menuju Yayasan Pelayanan, Pemakaman, dan Kremasi (YPK) Bumi Baru, Jalan Holis No 131, Bandung. ’’Subuh-subuh sekitar jam empat datang empat pria meminta satu peti jenazah dan mobil ambulans untuk dikirim ke Al- Islam,’’ jelas Maman, pegawai YPK.

Menurut rencana, beberapa senior korban dan Pembina Kontingen Sulut Prof Dr Lexie Groth serta bibi korban, Ny Rudi Ponki, memberangkatkan jenazah Clifft ke Manando. Namun, rencana itu digagalkan pihak kepolisian. Sebab, banyak kejanggalan dalam kasus tersebut. ’’Saya tahan dulu karena ada kejanggalan dan ini harus diotopsi,’’ jelas Kapolsek Jatinangor AKP Bashori.

Hingga pukul 08.00 kemarin, beberapa wartawan cetak maupun elektronik mulai bermunculan di RSAI. Sementara itu, pradja senior yang berjaga- jaga selalu menghalangi wartawan saat mengambil gambar. Beberapa wartawan pun terkena perlakuan kasar saat meliput. ’’He, jangan ngambil gambarnya. Udah, pergi aja!’’ teriak salah seorang pradja senior sambil membanting pintu ambulans.

Kapolres Sumedang AKBP Syamsul Bachri saat tiba di RSAI mengatakan, pihaknya terus mencari keterangan dan menyelidiki kematian pradja IPDN itu. ’’Pihak kepolisian menyelidiki dahulu, wajar enggak kematiannya? Namun, setelah bertanya ke saksi-saksi, sebelumnya korban tidak mengalami sakit. Tiba-tiba meninggal dunia saja,’’ jelas Syamsul. ’’ Karena itu, kami akan mendalaminya dan berkoordinasi dengan dokter Forensik untuk mengungkap kejadian sebenarnya,’’ ujar Syamsul.

Pukul 08.38, jenazah diberangkatkan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, untuk diotopsi. Setibanya di RSHS, jenazah tidak langsung diotopsi. Jenazah Clifft baru diotopsi pukul 11.30. Namun, hingga petang kemarin belum ada kejelasan terkait kematian korban. ’’Saya tidak berwenang membeberkan hasil otopsi karena yang berwenang ialah pihak penyidik dari polisi,’’ ujar Kepala Forensik RSHS dr H Noorman Herryadi SpF SH. ’’Hasil keseluruhannya baru bisa diketahui seminggu kemudian,’’ jelas Noorman.

Bashori ketika ditanya soal hasil otopsi juga mengaku tidak tahu. Sebab, pemeriksaan saksi-saksi masih dilakukan. ’’Kami masih memeriksa beberapa saksi, termasuk orang yang mengantarnya itu,’’ jelasnya.

Clifft diduga meninggal secara tidak wajar. Sebab, banyak kejanggalan yang ditemukan. Apalagi, prosesi pemeriksaan di RSAI terkesan ditutup- tutupi. Hal itu dikuatkan dengan adanya darah yang keluar dari kepala bagian belakang.

Bercak darah itu terlihat saat petugas forensik memindahkan jenazah dari peti ke ruang otopsi. Di bantal bekas kepala jenazah itu tertinggal bercak darah merah yang mengental.

Padahal, sebelum dimasukkan ke peti dan dibawa ke RSHS, jenazah terlebih dahulu dimandikan. Setelah itu, diberi pakaian kebesaran IPDN berwarna putih bersih lengkap dengan tulisan nama: CLIFFT MUNTU.

Terkait misteriusnya kematian Clifft, dosen ilmu pemerintahan IPDN Inu Kencana Syafii menduga ada apa-apa di balik kematian mahasiswanya itu. ’’Saya berkeyakinan pasti ada apa-apanya di balik kematiannya itu. Bila itu terbukti, berarti IPDN melakukan kebohongan publik,’’ ujarnya, ketika ditemui wartawan di kamar mayat RSHS.

Karena Sakit

Departemen Dalam Negeri membantah telah terjadi penganiayaan terhadap Cliff Muntu seorang praja Institut Pemerintahan Dalam Neger (IPDN), Senin (2/4) malam lalu. Praja tingkat dua itu meninggal setelah mengikuti latihan drumband yang berakhir malam hari. Karena mendadak, muncul dugaan Cliff meninggal karena dianiaya.

”Informasi yang kami peroleh dari Rektor IPDN tidak ada itu (penganiyaan) yang bersangkutan menderita sakit,” ujar Kepala Pusat Penerangan Depdagri Saut Situmorang di Jakarta, kemarin.

Kematian Cliff menimbulkan tanda tanya karena mendadak. Sebelumnya, aksi penganiayaan pernah terjadi pada September 2003. Wahyu Hidayat, 19 tewas setelah dianiaya seniornya. Penganiayaan oleh para seniornya juga dialami Ichsan Suheri dan Aidil Zulhaini. Keduanya sempat mengalami trauma, hingga merasa was-was untuk meneruskan pendidikan.

’’Dari tim dokter kami juga mengumpulkan keterangan,” kata Saut. Jenazah Cliff tadi malam langsung diterbangkan keluarganya menuju Manado, Sulawesi Utara melalui bandara Soekarno Hatta, Tangerang tadi malam. Sebelumnya, jenazah praja berusia 21 tahun itu sempat diotopsi di RS Hasan Sadikin, Bandung.

Saut menjelaskan, pengawasan terhadap kurikulum IPDN sangat ketat. Jadi, kemungkinan terjadi pelanggaran disiplin sangat kecil. ”Komitmen dan disiplin tetap ditegakkan namun menjauhi cara-cara berbau kekerasan,” ujarnya. (***)

http://www.hu-pakuan.com/beritadetail.php?beritakode=20070405120513

Belum Ada Tanggapan to “Seorang Praja Tewas Tak Wajar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: