IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

Praja Senior STPDN Kembali Menganiaya

Sumedang, 19 September 2003 11:32


Belum tuntas mengusut kematian praja STPDN Wahyu Hidayat yang tewas karena dianiaya para seniornya, Polres Sumedang kembali disibukkan dengan terungkapnya kasus penganiayaan terhadap praja Jurinata yang juga disiksa oleh tiga orang praja seniornya yang mabuk.

Kapolres Sumedang AKBP Drs Yoyok Subagiono SH mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan ketertutupan para petinggi STPDN terhadap kasus-kasus kriminal yang terjadi di lingkungan kampus di Jatinangor, Sumedang itu.

“Semula korban praja Jurinata melapor kepada polisi diantar Sekretaris Keprajaan STPDN Drs Inu Kencana Syafiie, tetapi malah dihalang-halangi oleh para Ketua STPDN, malah pelapornya diintimidasi supaya tak buka mulut meski korban hampir meninggal akibat disiksa tiga praja yang mabok tanggal 12 Mei 2003. Kini Pak Inu dan Jurinata kembali kami periksa untuk mengusut kasus itu, karena kasus ini kasus pidana murni dan bukan delik aduan,” katanya.

Sementara itu Drs Inu Kencana Syafiie saat dihubungi secara terpisah membenarkan dirinya sudah mendapat panggilan dari Polres Sumedang untuk dimintai keterangan soal kasus penganiayaan terhadap praja Jurinata asal Kalimantan Tengah oleh tiga seniornya yang dipergoki korban sedang mabuk-mabukan.

Menurut dia, setelah korban dipukuli pada tanggal 12 Mei 2003 dan mengadu kepadanya, maka korban langsung divisum di RS Al-Islam kemudian kasus itu dilaporkan ke Mapolsek Jatinangor.

“Namun bukan keadilan yang didapat, saya justru diintimidasi para petinggi STPDN untuk mencabut kembali laporan itu dan tanggal 23 Juni 2003 saya tidak dipanggil Ketua I STPDN DrsWiesman Syafri, sehingga saya terpaksa menandatangani pencabutan laporan karena terus ditekan,” katanya.

Masalah tersebut kembali diungkapkan kepada pers, kata dia, karena dirinya ingin melihat STPDN berubah menjadi lebih baik setelah selama ini penuh dengan kebobrokan dan dirinya menjadi korban dari kasus kekerasan tersebut sehingga kenaikan pangkatnya dihambat dan SPP kuliah program doktornya tak dibayar pihak STPDN, kata Inu Kencana.

Kepergok mabuk

Kasus penganiayaan yang dialami praja tingkat II Jurinata tersebut terjadi tanggal 12 Mei selepas apel malam saat korban lewat di depan barak mendapati sejumlah praja tingkat III sedang kongkow-kongkow sambil meminum minuman keras.

Mendapati ulah mereka yang tergolong pelanggaran berat itu dipelototi juniornya yang secara tidak sengaja sedang lewat, tiga praja tingkat III masing-masing praja Sangrito, praja Henri dan praja Laorent tanpa basa-basi langsung mengamuk membabi buta dan menyerang Jurinata yang sedang bengong kebingungan dengan tendangan dan pukulan secara bertubi-tubi.

Tanpa diizinkan untuk melakukan perlawanan, korban terus dikeroyok dan disiksa oleh ketiga praja hingga korban tak sadarkan diri dan dilarikan ke RS Al-Islam di Jalan Sukarno Hata, Bandung.

“Dalam laporan kepada polisi saya sertakan pula bukti hasil visum dari rumah sakit bahwa akibat penganiayaan oleh ketiga praja tersebut korban mengalami patah tulang iga, kerusakan pada kantung kemih, dan gendang telinga sebelah kiri pecah sehingga korban tak bisa mendengar dengan normal,” kata Inu Kencana.

Sementara itu, dalam laporan tertulis yang dibuat korban kepada polisi disebutkan, peristiwa tragis yang mirip dengan penganiayaan yang dialami oleh praja Wahyu Hidayat itu terjadi hari Senin 12 Mei 2003 pukul 19.30 Wib.

Saat itu, praja tingkat III bernama Hendri, dan Yobis Sandra mendatangi wisma Gorontalo tempat korban menginap dan meminta korban untuk datang ke berkumpul di Wisma Sultra bersama pada praja dari Kalteng lainnya.

Namun karena ada acara pengkaderan umum, korban baru bisa datang pukul 22.30 karena dicegat oleh teman-teman asal Kalteng dan langsung menyalami para seniornya yang sudah berjajar. Saat itulah praja senior bernama Hendri mengambil botol yang dibungkus plastik hitam kemudian tumpah dan menyemburkan bau alkohol dan secara spontan korban yang berdiri dekat Hendri mengenali botol itu merupakan botol minuman keras.

Saat itulah semua Jurinata dan teman-temannya diminta untuk membuka baju kemudian disuruh memhadap lemari serta langsung dipukul, ditampar dan ditendang. “Saya sudah katakan saya saat itu sedang sakit tetapi tetap saja dipukuli dan ditampar disuruh diam,” katanya.

Saat itu pula terjadi tamparan sangat keras dilakukan oleh praja bernama Lorent O Tahan bertubi-tubi mengenai pipinya dan telinga sehingga darah mengucur keluar dari telinga karena gendang telinga kiri pecah. “Namun Kak Lorent tetap saja menampar saya meski telinga saya sudah berdarah ditambah tamparan keras dari praja San Grito,” tulis Jurinata.

Kondisi korban yang sudah parah, tak membuat aksi bar-bar itu berhenti. Ketika korban membanting kepala dan menutup telinga karena tak kuat menahan rasa sakit, praja Hendri malah menghadiahkan bogem mentah ke wajah Jurinata karena dikira akan melawan.

“Saya yakin ketiga praja yang menghajar saya itu sedang mabuk kesetanan karena saat bicara mulut mereka bau alkohol,” tulis Jurinata. Selesai disiksa secara sadis, korban diperintahkan ketiga seniornya untuk duduk dan makan kue, namun korban menolak karena kesakitan tak bisa makan kue sehingga kembali disiksa.

Tragedi sadis yang dialami Jurinata berakhir pukul 24.00 Wib sehingga dia mengalami penyiksaan biadab selama hampir 1,5 jam sejak pukul 22.30 Wib selepas mengikuti acara pengkaderan umum.

Setelah kejadian itu koban mengadu kepada Inu Kencana dan langsung diantar untuk melapor ke polisi namun karena diintimidasi para petinggi STPDN kasus itu sempat dipetieskan hingga diungkap kembali oleh Inu Kencana kepada wartawan dan Kapolres Sumedang.

“Setelah memeriksa Pak Inu, saya akan langsung memeriksa tersangka pelakunya dan semua barang bukti dari Pak Inu juga dari Polsek Jatinangor. Kapolsek Jatinangor juga saya tegur dengan keras karena mendiamkan kasus yang sebenarnya kasus kriminal dan bukan delik aduan seperti kasus ini,” kata Kapolres Sumedang AKBP Yoyok Subagiono. [Tma, Ant]

http://www.gatra.com/2003-09-19/artikel.php?id=31232

Belum Ada Tanggapan to “Praja Senior STPDN Kembali Menganiaya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: