IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

Seleksi IPDN Diduga Sarat Suap

Tarif yang diminta Rp 30-40 juta per orang.

Kendari — Penerimaan praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, diduga sarat praktek penyuapan. Calon praja biasanya didatangi orang yang mengaku dari IPDN untuk menawarkan bantuan. Untuk jasa itu, mereka memasang tarif puluhan juta rupiah sebagai imbalan meloloskan calon.

Seorang alumnus IPDN tahun 2006 menceritakan, setiap kali menjelang pengumuman seleksi penerimaan praja, sejumlah orang yang mengaku bekerja di institusi itu menawarkan bantuan kepada calon mahasiswa. Orang-orang tersebut, kata dia, meminta imbalan uang. “Jumlahnya Rp 30-40 juta,” kata sumber yang kini bekerja di kantor Gubernur Sulawesi Tenggara itu.

Pengakuan serupa dinyatakan Azhari, Rektor Universitas 11 November, Kolaka, Sulawesi Tenggara. “Praktek (suap-menyuap) itu benar adanya,” kata alumnus IPDN tahun 1994 yang kini menjabat Ketua Purna Praja IPDN Sulawesi Tenggara itu. Tapi dia tidak berani memastikan apakah para pelaku tersebut benar-benar dari IPDN. “Sulit membuktikannya.”

Bastaman Jusri, orang tua Muhammad Amrullah, salah seorang tersangka penganiayaan Cliff Muntu, juga menduga adanya praktek haram tersebut. Amrullah mengungkapkan, pada 2004, ada beberapa orang yang dinyatakan tidak lulus, tapi ternyata bisa kuliah di IPDN.

“Waktu anak saya berangkat dan kuliah di IPDN, ia melihat orang-orang yang tidak lulus seleksi itu tiba-tiba muncul dan ikut kuliah,” ujar Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, ini di Kendari kemarin. Bastaman juga pernah ditawari orang yang mengaku dari IPDN untuk meloloskan anaknya. “Saya tolak karena saya yakin anak saya lulus.”  

Bastaman meceritakan proses pendaftaran dan seleksi calon praja IPDN biasanya dilakukan Badan Kepegawaian Daerah di kabupaten/kota masing-masing. Badan ini ditunjuk sebagai pelaksana karena mereka yang lulus seleksi masuk IPDN otomatis berstatus pegawai negeri sipil.

Terakhir, praktek suap-menyuap dialami seorang warga Sumedang yang enggan disebut namanya. Perempuan ini mengaku menitipkan kerabatnya kepada seorang dosen IPDN agar diterima sekolah di sana. “Saya titipkan dia sejak Juli tahun lalu agar bisa masuk tahun ini,” katanya. Dia mengaku sudah dimintai uang Rp 7 juta, antara lain untuk membeli soal tes masuk.

Kepada Tempo, dosen yang dimaksudkan tersebut membantah telah menerima uang. “Itu tidak benar,” ucapnya.

Menanggapi dugaan adanya praktek suap dalam penerimaan praja, Dekan Fakultas Politik Pemerintahan IPDN Lailil Kadir menyatakan pernah mendengarnya. Ketika ditanya apakah nilai suap di bawah Rp 10 juta, dia menjawab, “Itu sih terlalu sedikit,” katanya. Kadir bahkan pernah mendengar nilai suap masuk IPDN sampai Rp 100 juta.

Dikirim oleh Yudo Arif Wibowo   
[2007-04-18 09:59:06]

http://kormonev.menpan.go.id/ebhtml/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=97&Itemid=92

Belum Ada Tanggapan to “Seleksi IPDN Diduga Sarat Suap”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: