IPDN/STPDN Watch
upaya mengingat kepentingan hajat hidup Masyarakat

Rekrutmen Pengajar dan Siswa STPDN Tidak Beres

06 Oktober 2003

TEMPO Interaktif, Bandung: Ada beberapa hal yang harus segera dibenahi di Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri. Hal itu antara lain aspek institusi, pembelajaran, pendukung dan peserta didik. Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Departemen Dalam Negeri Sudarsono dengan Komisi Etika yang diikuti oleh perwakilan tim independen Alfitra Salam, Kepala Polisi Resort Sumedang Ajun Komisaris Besar Polisi Yoyok S. dan beberapa dosen STPDN di kampus Jatinangor, Senin siang (6/10).

Kesimpulan pembenahan itu didapatkan setelah komisi indenpenden memeriksa 9 dari 138 orang dosen STPDN.

Dari aspek intitusi ditemukan penyimpangan pola pengasuh dari kurikulum STPDN. Menurut Alfitra, tradisi kekerasan berasal dari pengasuh yang dilanjutkan oleh praja, yang sudah ada sejak awal berdirinya STPDN.

Alfitra juga menyoroti kurangnya kualitas dan kompetensi staf pengajar dan pengasuh. “Ada dosen yang mengajar sampai 4 mata kuliah. Padahal seharusnya 1 dosen 1 mata kuliah,” ucap Alfitra.

Untuk mengatasi kelemahan itu, Sudarsono menegaskan departemen dalam negeri akan mengintensifkan pendidikan dan pelatihan. “Selama 2003, baru sekali, yaitu dibulan Juli, diadakan diklat yang diikuti 15 dosen STPDN,” katanya.

Yang juga amburadul adalah standar dalam perekrutan pengasuh dan pelatih. “Siapa mau, siapa berminat, dan siapa yang kenal dengan orang STPDN bisa menjadi seorang pengasuh,” kata Alfitra. Sehingga tidak heran jika ada mantan satpam, supir yang menjadi pengasuh. Alfitra juga membenarkan adanya indikasi penggunaan uang dalam proses perekrutan tersebut.

Dari aspek peserta didik, ditemukan beberapa penyimpangan dalam proses rekruitmen calon praja STPDN. Ada beberapa calon yang tidak lolos seleksi tapi diterima. “Umumnya mereka tidak memenuhi standar, seperti standar IQ dan kesehatan,” ungkap Alfitra.

Lebih jauh, Alfitra menilai adanya slogan “Asal Bapak Senang”, mengakibatkan Departemen Dalam Negeri tidak mengetahui persis permasalahan di STPDN.

Dalam pembicaraan tersebut, tim independen menawarkan untuk memisahkan tempat pendidikan antara praja muda dengan madya, madya dengan nindya, untuk menghindari kekerasaan.  Hambali Batubara – Tempo News Room.
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2003/10/06/brk,20031006-43,id.html

Belum Ada Tanggapan to “Rekrutmen Pengajar dan Siswa STPDN Tidak Beres”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: